Selasa, 29 September 2015

[090] Al Balad Ayat 003

««•»»
Surah Al Balad 3

وَوالِدٍ وَما وَلَدَ
««•»»
wawaalidin wamaa walada
««•»»
Dan demi bapak dan anaknya.
««•»»
by the father and him whom he begot:
««•»»

Dalam ayat-ayat ini Allah bersumpah dengan kota Mekah yang di dalamnya terdapat Kakbah yang menjadi kiblat bagi umat Islam di seluruh dunia dan tempat seorang besar yang diakui oleh lawan dan kawan atas kebesarannya, yaitu Nabi Muhammad SAW. dilahirkan dan bertempat tinggal.

Beliau adalah utusan Allah yang membawa agama Islam untuk disampaikan ke seluruh manusia. Kemudian Allah bersumpah demi bapak dan anaknya, manusia dan bukan manusia, bahwa sesungguhnya Dia telah menciptakan manusia yang selalu berada dalam susah payah, berjuang semenjak permulaan hidupnya sampai akhir hayatnya dan di akhirat nanti masih harus memikul beban yang berat dan menghadapi kesulitan yang tidak dapat diatasinya kecuali dengan pertolongan Allah SWT.

««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
TAFSIR AL AZHAR
OLEH BUYA HAMKA

««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»

“Demi yang beranak, demi yang diperanakkannya.”

Siapakah yang dituju Tuhan dengan mengambil sumpah dengan waalid; yang berarti ayah, dan wamaa walad; apa yang dia anakkan. Menurut tafsir Mujahid dan Qatadah dan lain-lain: Yang beranak, atau ayah itu, yang dimaksud Tuhan ialah Nabi Adam; ayah dari seluruh manusia. Yang diperanakkan ialah kita seluruh keturunan Adam ini.

Dapat saja kita memperpanjang tafsir ini dengan penghargaan Allah terhadap Insan yang amat dimuliakan Tuhan di antara segala makhluk-Nya. Di Surat 17, Al-Isra’: 70, dengan bangga Allah menyatakan bahwa; “Sesungguhnya telah Kami muliakan keturunan Adam; dan Kami angkut mereka di darat dan di laut dan Kami beri rezeki mereka dengan yang baik-baik, dan Kami lebihkan dia dari sebahagian besar dari yang Kami ciptakan, benar-benar lebih.” Banyak lagi ayat lain menyatakan kelebihan Adam dan keturunannya itu.

Abu Imran Al-Juani menafsirkan bahwa yang dimaksud dengan yang jadi ayah itu ialah Nabi Ibrahim, dan yang diperanakkan ialah turunannya, termasuk Nabi Ishak yang menurunkan Nabi-nabi Bani Israil dan Ismail yang menurunkan Muhammad SAW.

Tetapi Ibnu Jarir At-Thabari menyatakan dengan tegas, bahwa yang dimaksud dalam ayat ini nyata sekali, yaitu segala orang yang jadi ayah, dan segala anak yang diperanakkan oleh si ayah itu. Manusia kembang di dunia ini. Kehidupan seorang ayah di dalam mendidik anaknya berbagai ragam, berbagai rupa, berbagai perangai, itu pun satu hal yang memang patut mendapat perhatian. Itu sebab maka “Ayah dan keturunannya” menjadi salah satu sumpah penting pula oleh Allah. Hartabenda dan anak keturunan adalah perhiasan hidup di dunia, namun yang kekal hanyalah amal yang shalih jua. Seorang ayah dapat membangga dengan banyak anak-anaknya waktu mereka masih kecil. Tetapi setelah anak itu menjadi dewasa, belum tentu anak itu akan dapat dibanggakan.

Teringatlah saya bahwa pada tahun 1951, ketika Muhammad Natsir menjadi Perdana Menteri Republik Indonesia, di tengah hebatnya percaturan politik, Natsir mendapat percobaan. Puteranya laki-laki terbenam hanyut sedang berenang di salah satu permandian di Jakarta, sehingga meninggal dunia. Di antara yang datang takziyah Almarhum Haji Agus Salim Failasuf tua itu dalam bersalam menyatakan turut berdukacita telah berkata kepada Natsir: “Tak usah saya terangkan lagi. Bersyukurlah kepada Tuhan, karena anak ini meninggal di saat engkau masih merasa bangga dengan dia.”

Saya tafakur mendengarkan ucapan orang tua itu. Dan telah berlalu lebih 20 tahun sampai sekarang, kian saya renungkan maksud perkataan Failasuf besar itu. Memang anak sebelum dia dewasa masih pasti dapat kita banggakan. Nanti kalau dia telah dewasa dan telah bertindak sendiri dalam hidupnya, tidaklah kurang orang tua yang “makan hati berulam jantung” melihat perangai anak. Lain yang dicitakan, lain yang tumbuh dalam hidup anak ini. Kadang-kadang bertolak belakang.

Di dalam ayat ini disebut waa waalidin, yang berarti demi seorang ayah. Kita cenderung menumpangkan diri dalam tafsiran Ibnu Jarir, bahwa sumpah peringatan Allah itu bukan terkhusus kepada Nabi Adam atau Nabi Ibrahim. Sebab kalimat waalidin adalah nakirah, yang berarti tidak ditentukan kepada orang tertentu, bahkan mencakup barang mana ayah saja pun. Sambungannya wamaa walada; Yang berarti: dan apa yang dia peranakan. Kalau diingat bahwa yang diperanakkan itu tentu saja manusia, tentu hendaknya bukan memakai maa yang berarti apa yang melainkan memakai man yang berarti demi orang yang dia peranakan. Tetapi karena yang dimaksud bukan menyebut orangnya, melainkan menyebut macam ragam perangai, pembawaan, kelakuan, kepintaran, kebodohan, kekayaan dan kemiskinan, maka yang tepat memang Maa, bukanlah Man.

««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
TAFSIR JALALAIN
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»

(Dan demi bapak) yaitu Nabi Adam (dan anaknya) atau anak cucunya; huruf Maa di sini bermakna Man.
««•»»
And [by] the begetter, that is, Adam, and that which he begat, that is, his descendants (mā, ‘that which’, [actually] means man, ‘whom’).
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
[AYAT 2][AYAT 4]
[KEMBALI]
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
3of20
Sumber: Yayasan Indonesia Membaca http://www.indonesiamembaca.net
http://www.al-quran-al-kareem.com/id/terjemahan/Tafsir-Jalalayn-indonesian
http://www.altafsir.com/Tafasir.asp?tMadhNo=0&tTafsirNo=74&tSoraNo=90&tAyahNo=3&tDisplay=yes&UserProfile=0&LanguageId=2 
http://al-quran.info/#90:3

Tidak ada komentar:

Posting Komentar