««•»»
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
««•»»
bismi allaahi alrrahmaani alrrahiimi
««•»»
Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.
««•»»
In the Name of Allah, the All-beneficent, the All-merciful.
««•»»
Surah Al Balad 1
لا أُقسِمُ بِهٰذَا البَلَدِ
««•»»
laa uqsimu bihaadzaa albaladi
««•»»
Aku benar-benar bersumpah dengan kota ini (Mekah),
««•»»
I swear by this town,
««•»»
Dalam ayat-ayat ini Allah bersumpah dengan kota Mekah yang di dalamnya terdapat Kakbah yang menjadi kiblat bagi umat Islam di seluruh dunia dan tempat seorang besar yang diakui oleh lawan dan kawan atas kebesarannya, yaitu Nabi Muhammad SAW. dilahirkan dan bertempat tinggal.
Beliau adalah utusan Allah yang membawa agama Islam untuk disampaikan ke seluruh manusia. Kemudian Allah bersumpah demi bapak dan anaknya, manusia dan bukan manusia, bahwa sesungguhnya Dia telah menciptakan manusia yang selalu berada dalam susah payah, berjuang semenjak permulaan hidupnya sampai akhir hayatnya dan di akhirat nanti masih harus memikul beban yang berat dan menghadapi kesulitan yang tidak dapat diatasinya kecuali dengan pertolongan Allah SWT.
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
TAFSIR AL AZHAR
OLEH BUYA HAMKA
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
Ketika menafsirkan Surat 75 Al-Insan atau Ad-Dahr di Juzu’ 29 telah kita uraikan juga agak panjang tentang arti sumpah peringatan Allah yang dimulai dengan Laa Uqsimu, yang arti lurusnya saja: tidak aku akan bersumpah! Meskipun arti lurus saja tidak bersumpah, namun maksudnya ialah bersumpah, sehingga perkataan Laa pada satu waktu berarti menafikan dan di waktu yang lain berarti nahyi, yaitu melarang, di Laa Uqsimu ini mesti diartikan bahwa Tuhan Bersumpah. Sehingga Syaukani di dalam tafsirnya Al-Fat-hul Qadiir mengambil kesimpulan bahwa Laa yang berarti tidak atau jangan ialah huruf zaidah huruf tambahan yang tidak ada arti dalam susunan ini. Tafsiran Asy-Syaukani ini menguatkan tafsiran Al-Akhfasy.
Seluruh ahli tafsir, sejak dari Ibnu Jarir Ath-Thabari, sampai kepada Ibnu Katsir dan lain-lain (jumhurul-mufassirin) telah mengartikan Laa Uqsimu dengan aku bersumpah, bukan dengan Tidak aku bersumpah.
Satu tafsiran dari Al-Qusyairi: Huruf Laa yang berarti tidak, di sini bukanlah huruf tambahan yang tidak berarti. Kata beliau Tuhan berfirman: TIDAK! Adalah bantahan terhadap manusia yang kelak akan dibicarakan dalam Surat ini, yaitu manusia yang terpedaya oleh dunia; tidaklah keadaan sebagai yang mereka sangka, yaitu bahwa mereka menyangka tidak seorang pun yang dapat menguasai mereka; yang akan tersebut di ayat 5 kelak.
Jadi menurut tafsiran Al-Qusyairi ini ialah begini: “Tidak! Persangkaan kalian itu adalah salah!” Aku bersumpah, demi negeri ini!”
Dan ada satu lagi penafsiran dibawakan orang. Dia mengatakan bahwa Laa Uqsimu artinya betul-betul menurut aslinya. Yaitu: “Aku tidak bersumpah demi negeri ini lagi, karena engkau tidak ada lagi di dalamnya, sesudah engkau keluar meninggalkannya (hijrah).” Tafsiran ini diriwayatkan oleh Al-Makkiy.
Maka kita ambil sajalah tarjamah dan arti yang dipakai oleh golongan yang terbesar (jumhurul-mufassirin), sebagai telah kita suntingkan di atas;
“Aku bersumpah, demi negeri ini.”
Tuhan bersumpah demi negeri ini, yaitu negeri Makkah Al-Mukarramah. Dan apabila Tuhan telah mengambilnya menjadi sumpah, artinya ialah bahwa Tuhan memberi ingat kita betapa pentingnya negeri itu. Di Surat 95 kelak, (Surat At-Tiin) kita bertemu lagi ayat 3 sumpah Tuhan memperingati negeri ini:
“Demi ini negeri yang aman.”
Dapatlah kita maklumi betapa mulia dan betapa penting kedudukan negeri Makkah itu, yang sejak zaman Ibrahim telah jadi pusat peribadatan kepada Allah bagi menegakkan kalimat tauhid. Dia bernama Makkah dan dia bernama Bakkah. Antara huruf Mim dengan huruf Baa adalah satu makhrajnya, yaitu sama-sama bibir. Di sanalah pertama sekali sebuah rumah ibadat buat memuja Allah Yang Esa berdiri, jadi petunjuk untuk seluruh alam, (Surat 3, Ali Imran; 96). Di sana terdapat Maqam Ibrahim (Ali Imran; 97). Di situ berdiri Ka’bah didirikan oleh Nabi Ibrahim dibantu oleh anaknya Ismail sebagai pusat tempat beribadat bagi manusia (Surat 5; Al-Maidah; 97). Dan beberapa Surat yang lain. Dan di sinilah lahir Nabi Muhammad SAW.
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
TAFSIR JALALAIN
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
(Sungguh) huruf Laa di sini adalah huruf Zaidah mengandung makna Taukid (Aku bersumpah dengan kota ini) yakni kota Mekah.
««•»»
I swear (lā is extra) by this land, of Mecca,
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
•[AYAT 2]•
•[KEMBALI]•
««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»««•»»
1of20
Sumber: Yayasan Indonesia Membaca http://www.indonesiamembaca.net
http://www.al-quran-al-kareem.com/id/terjemahan/Tafsir-Jalalayn-indonesian
http://www.altafsir.com/Tafasir.asp?tMadhNo=0&tTafsirNo=74&tSoraNo=90&tAyahNo=1&tDisplay=yes&UserProfile=0&LanguageId=2
http://al-quran.info/#90:1